H. Luruh Sanyono, S.H.

(Ketua Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan Kejuangan 45 Kabupaten Pemalang)

Pemalang, 16 Agustus 2025 –

Malam ini, kita berkumpul dalam suasana penuh haru dan kebanggaan, memperingati Wungon atau malam menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Peristiwa yang kita rayakan bukanlah sekadar catatan kalender, melainkan tonggak sejarah ketika bangsa ini, pada 17 Agustus 1945 pukul 09.55 WIB di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, menyatakan kemerdekaannya kepada dunia. Proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno-Hatta menjadi penanda babak baru kehidupan bangsa: lepas dari belenggu penjajahan, berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa merdeka.

Namun, kemerdekaan bukanlah hadiah. Ia adalah hasil dari perjuangan panjang, berliku, dan penuh pengorbanan. Darah dan air mata para pejuang telah menjadi pupuk bagi tumbuhnya kemerdekaan itu sendiri.

Sejarah panjang menuju kemerdekaan diawali dari kesadaran kolektif anak bangsa. Pada tahun 1908, dokter Wahidin Sudirohusodo dan dokter Sutomo mendirikan organisasi Budi Utomo—penanda lahirnya Kebangkitan Nasional. Dari sinilah kesadaran persatuan mulai tumbuh di tengah keberagaman etnis dan agama.

Kebangkitan Nasional melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, Samanhudi, Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, hingga Sutan Syahrir. Lahir pula organisasi besar seperti Sarekat Islam, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan Partai Nasional Indonesia.

Tak kalah penting adalah peran organisasi kepemudaan seperti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Celebes, dan Jong Borneo. Dari forum Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 lahir Sumpah Pemuda, yang menyatukan tekad: bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Sumpah Pemuda adalah cerminan nyata semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

WR Supratman: Jejak Pahlawan dari Tanah Pemalang

Salah satu sosok penting yang menghidupkan semangat perjuangan adalah Wage Rudolf Supratman (WR Supratman), pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya. Banyak yang mungkin belum tahu, jejak kehidupannya berhubungan erat dengan Kabupaten Pemalang.

WR Supratman pernah tinggal di Randudongkal karena diangkat anak oleh Raden Mas Menang, suami dari neneknya. Dari sinilah ia memperoleh gelar Raden sebelum kemudian, demi bisa bersekolah di sekolah Belanda, namanya diubah menjadi Wage Rudolf Supratman.

Bersama kakak iparnya, Willem Van Eldik, ia mempelajari musik hingga mahir menggubah lagu. Indonesia Raya yang ia ciptakan pertama kali diperdengarkan dalam Kongres Pemuda II 1928 menjadi bahan kekhawatiran pemerintah kolonial Belanda karena liriknya mengandung kata “Merdeka”. Demi keamanan, lirik itu pernah diubah menjadi “Mulia”, dan kata “Indonesia” diganti “Indones”.

Perjuangan hidup WR Supratman penuh perpindahan untuk menghindari kejaran polisi rahasia Belanda. Pada 1935, ia kembali ke Randudongkal, lalu mengungsi ke Desa Wangkelang bersama keluarganya. Namun, rumah di Randudongkal dibakar Belanda karena gagal menemukan dirinya.

Akhir hidupnya dihabiskan di Surabaya, di rumah kakaknya, hingga wafat pada 17 Agustus 1938—tujuh tahun sebelum kemerdekaan. Meski tidak sempat melihat Indonesia merdeka, karya agungnya menjadi simbol kebangsaan yang menyatukan perjuangan rakyat.

Sebagai rakyat Pemalang, kita patut berbangga bahwa seorang putra bangsa dengan ikatan sejarah kuat di daerah ini telah memberikan warisan monumental bagi Indonesia.

Warisan perjuangan seperti yang ditinggalkan WR Supratman bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dijaga dan dihidupkan. Itulah sebabnya Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan Kejuangan 45 Kabupaten Pemalang mengajukan usulan kepada DPRD Kabupaten Pemalang untuk membentuk Peraturan Daerah tentang Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (PPWK).

Alhamdulillah, perjuangan panjang ini membuahkan hasil: Panitia Khusus IV DPRD telah menyetujui Raperda PPWK untuk ditetapkan menjadi Perda. Diharapkan, pada November 2025—bulan peringatan Pahlawan ke-80—Perda ini resmi disahkan.

Pendidikan Pancasila dan wawasan kebangsaan adalah benteng moral dan ideologis bangsa. Di tengah derasnya arus globalisasi dan disrupsi teknologi, generasi muda perlu fondasi kokoh agar tidak tercerabut dari akar sejarah dan jati diri bangsa.

Tantangan Mengisi Kemerdekaan

Kemerdekaan adalah jembatan emas yang menghubungkan masa penjajahan dengan masa depan yang kita cita-citakan. Namun, kemerdekaan tidak berarti perjuangan telah usai. Tugas kita sekarang adalah mengisi kemerdekaan—bukan dengan peperangan fisik, tetapi dengan kerja keras membangun bangsa di segala bidang.

Nilai-nilai Kejuangan 45 harus menjadi pedoman: keberanian, pengorbanan, persatuan, dan pantang menyerah. Pancasila, Proklamasi 1945, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika adalah pilar yang tidak boleh digoyahkan.

Sayangnya, tantangan bangsa kini tidak kalah berat dibanding masa penjajahan. Korupsi, perpecahan sosial, intoleransi, dan lemahnya literasi sejarah adalah musuh internal yang menggerogoti keutuhan bangsa. Jika tidak diatasi, cita-cita kemerdekaan akan tereduksi menjadi slogan tanpa makna.

Belajar dari Masa Lalu, Bergerak untuk Masa Depan

Sejarah mengajarkan bahwa persatuan adalah kunci kemenangan. Sumpah Pemuda, Proklamasi Kemerdekaan, hingga lagu Indonesia Raya lahir dari tekad kolektif, bukan ambisi pribadi. Nilai kebersamaan itulah yang harus kita rawat di era sekarang.

Generasi muda harus memahami bahwa mereka adalah penerus tongkat estafet perjuangan. Literasi sejarah bukan sekadar menghafal tanggal dan nama tokoh, tetapi memahami makna di balik setiap peristiwa. Mengetahui bahwa kemerdekaan dibayar mahal akan menumbuhkan rasa tanggung jawab untuk menjaga dan mengembangkannya.

Pendidikan formal dan nonformal harus menjadi wahana penanaman nilai kebangsaan. Perda Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Pemalang adalah langkah strategis yang diharapkan menjadi teladan bagi daerah lain.

Delapan puluh tahun merdeka adalah usia yang matang untuk sebuah bangsa. Namun, kedewasaan bukan diukur dari lamanya waktu, melainkan dari sejauh mana bangsa ini mampu mengelola kemerdekaan untuk kesejahteraan rakyatnya.

Kita telah melewati masa merebut kemerdekaan, kini kita berada pada fase mempertahankan dan mengisinya. Seperti kata pepatah, belajar dari masa lalu, berjuang untuk hari ini, dan berharap untuk esok yang lebih baik.

WR Supratman, para pahlawan, dan seluruh pejuang kemerdekaan telah mengantarkan kita ke gerbang kemerdekaan. Tugas kita adalah menjaga, mengisi, dan mewariskannya kepada generasi mendatang dengan kualitas yang lebih baik.

Mari kita jadikan Pancasila sebagai kompas moral, persatuan sebagai kekuatan, dan semangat Kejuangan 45 sebagai energi untuk melangkah ke masa depan.

Karena kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan, tetapi awal dari tanggung jawab besar kita sebagai anak bangsa.(RedG)*****G-news.id