H. Luruh Sanyono, S.H.

(Ketua Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan Kejuangan 45 Kabupaten Pemalang)

Menjelang peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, bangsa ini kembali diingatkan pada arti pengorbanan dan perjuangan. Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini bukanlah hadiah, melainkan buah dari keberanian para pejuang yang rela mengorbankan jiwa dan raga. Salah satu sosok yang layak mendapatkan tempat istimewa dalam ingatan kolektif masyarakat Pemalang adalah Kyai Makmur—seorang ulama, pejuang, sekaligus bupati yang syahid dalam mempertahankan kedaulatan bangsa.

Gagasan pembangunan Monumen Kyai Makmur pertama kali muncul pada awal 2023, dan mendapat respons positif dari Pemerintah Kabupaten Pemalang. Rencana itu kini kian konkret setelah pada 19 Agustus 2025, Pemkab Pemalang melalui Dinas Perumahan dan Permukiman menggelar rapat paparan pembangunan monumen di kawasan Alun-Alun Pemalang.

Bagi kami di Dewan Harian Cabang Pembudayaan Kejuangan 45 (DHC 45), monumen ini bukan sekadar patung. Ia adalah simbol penghormatan, pengakuan sejarah, serta penguatan jati diri daerah. Monumen ini akan menjadi pengingat bahwa Pemalang tidak hanya dikenal dengan nanas madu, tetapi juga dengan tokoh besar yang rela mengorbankan nyawa demi tegaknya Republik.

Jejak Kehidupan dan Perjuangan Kyai Makmur

Kyai Makmur lahir pada tahun 1906 di Desa Pelutan, Pemalang. Ia merupakan putra pertama dari pasangan KH Nawawi, seorang penghulu sekaligus imam Masjid Agung Pemalang, dan Hj. Rubae’ah. Dari keluarga ulama inilah ia ditempa nilai-nilai keislaman sejak kecil.

Pendidikan formal ditempuhnya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Pemalang dan lulus pada 1920. Sejak itu, perjalanannya menuntut ilmu berlanjut ke berbagai pesantren: Grobogan, Godong Purwodadi, hingga Pesantren Jamsaren Solo di bawah KH Idris. Kemudian, ia menimba ilmu di Pesantren Tebuireng Jombang bersama KH Hasyim Asy’ari, tokoh besar Nahdlatul Ulama.

Atas dawuh gurunya, Makmur muda kembali ke Pemalang dan mendirikan Pondok Pesantren Salafiyah Kauman, Taman. Pesantren ini berkembang pesat dan menjadi pusat pendidikan Islam yang berpengaruh. Tidak hanya sebagai ulama, Kyai Makmur juga terjun dalam perjuangan kemerdekaan melalui jaringan Laskar Hizbullah-Sabilillah, memadukan semangat jihad agama dengan cinta tanah air.

Puncak pengabdian Kyai Makmur hadir ketika rakyat Pemalang secara aklamasi mengangkatnya menjadi Bupati Pemalang pada 30 Desember 1945. Namun, masa jabatannya singkat. Ia menolak tunduk pada tekanan Belanda dalam Agresi Militer I. Pada 9 September 1947, ia ditembak mati oleh tentara kolonial dan dimakamkan di TPU Pagaran Pemalang.

Kematian Kyai Makmur bukanlah akhir, melainkan awal dari warisan perjuangan. Ia gugur sebagai syuhada bangsa, teladan kepemimpinan sejati yang berani mempertaruhkan nyawa demi kedaulatan negeri.

Mengapa Monumen Kyai Makmur Penting?

Pembangunan monumen ini memiliki tiga urgensi utama:

Pertama, penghormatan atas jasa pejuang daerah.
Kyai Makmur bukan sekadar tokoh lokal, melainkan simbol keberanian dan pengorbanan. Generasi sekarang berhutang budi atas perjuangan para pendahulu. Monumen ini menjadi wujud nyata penghormatan, agar jasa mereka tidak terkubur oleh arus modernisasi dan lupa sejarah.

Kedua, edukasi sejarah .
Monumen bukan sekadar ornamen kota, melainkan sarana pembelajaran publik. Generasi muda Pemalang harus mengetahui bahwa tanah kelahirannya melahirkan pahlawan besar. Monumen ini dapat menjadi ruang belajar terbuka yang menyampaikan pesan tentang integritas, keberanian, dan nasionalisme.

Ketiga, penguatan identitas daerah.
Pemalang memang dikenal dengan nanas madu sebagai ikon ekonomi. Namun, daerah ini juga memiliki sejarah heroik yang tak kalah penting. Monumen Kyai Makmur memperkaya identitas Pemalang: ekonomi yang kuat berpadu dengan sejarah perjuangan yang mulia. Inilah simbol identitas ganda—ekonomi dan budaya—yang akan memperkuat kebanggaan daerah.

Menyikapi Dinamika Masyarakat

Tidak dipungkiri, rencana pembangunan monumen menimbulkan pro dan kontra. Sebagian masyarakat khawatir monumen ini akan menggeser ikon nanas madu yang sudah melekat. Namun, sesungguhnya keduanya tidak saling meniadakan. Nanas madu tetap menjadi ikon ekonomi, sementara monumen Kyai Makmur menjadi ikon sejarah.

Keduanya justru saling melengkapi. Pemalang akan dikenal bukan hanya sebagai daerah penghasil nanas madu, tetapi juga sebagai tanah kelahiran pejuang besar. Inilah nilai tambah bagi citra Pemalang di mata masyarakat Jawa Tengah maupun nasional.

Oleh karena itu, aspirasi masyarakat harus dihargai, namun arah kebijakan tetap diarahkan untuk menyatukan kepentingan: ekonomi yang berdaya saing, sekaligus sejarah yang terhormat. Momentum HUT RI ke-80 adalah saat paling tepat untuk mewujudkan gagasan besar ini.

Warisan Kehormatan untuk Generasi

Monumen Kyai Makmur bukan sekadar bangunan fisik, melainkan warisan kehormatan. Ia akan menjadi penanda kolektif bahwa Pemalang memiliki sosok pemimpin yang tulus berjuang tanpa pamrih. Generasi muda yang melintasi alun-alun akan melihat monumen itu, lalu bertanya: Siapa Kyai Makmur? Dari situlah cerita perjuangan diwariskan.

Lebih jauh, monumen ini diharapkan menumbuhkan kebanggaan kolektif. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pahlawannya. Pemalang akan lebih bermartabat jika mampu memberikan tempat yang layak bagi pejuang sejatinya.

Sebagai Ketua DHC 45 Pemalang, saya mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung pembangunan monumen ini. Mari kita lihatnya bukan sekadar proyek arsitektur, tetapi sebagai manifestasi cinta pada sejarah, tanah air, dan para pejuang bangsa.

Di tengah derasnya arus globalisasi, masyarakat sering diseret pada euforia modernitas hingga melupakan sejarah lokalnya sendiri. Monumen Kyai Makmur hadir untuk meneguhkan kembali ingatan kolektif Pemalang: bahwa daerah ini bukan hanya kaya hasil bumi, tetapi juga melahirkan pejuang besar yang namanya layak diabadikan.

Kyai Makmur adalah teladan kepemimpinan yang lahir dari pesantren, berjuang di medan perang, dan akhirnya gugur sebagai syuhada. Perjuangannya bukan hanya milik masa lalu, melainkan inspirasi untuk masa depan.

Dengan dibangunnya monumen ini, generasi Pemalang diajak untuk menatap masa depan dengan semangat pendahulu: berani, tegas, religius, dan cinta tanah air. Itulah warisan sejati seorang Kyai Makmur—warisan yang tidak pernah lekang oleh zaman. (RedG)